Umumnya bayi
kembar yang lahir
memiliki warna
kulit senada seperti
putih atau sama-
sama hitam. Tapi ternyata ada anak
kembar yang lahir
dengan warna kulit
berbeda yaitu hitam
dan putih. Kembar berbeda warna kulit ini terjadi di Inggris, yaitu Marcia
yang dilahirkan dengan warna kulit putih dan rambut cokelat
keemasan seperti ibunya, sedangkan Millie memiliki kulit
berwarna gelap dan rambut ikal seperti ayahnya yang berasal
dari Jamaika. "Beberapa orang terkadang masih tidak mempercayai bahwa
keduanya adalah kembar, termasuk gurunya terdahulu.
Keduanya pun memiliki karakter berbeda, ketika tumbuh
dewasa Millie lebih pemalu dan membutuhkan waktu
beberapa saat untuk bersuara jika ada orang baru yang
menyapanya, sedangkan Marcia sedikit bersikap bossy," ujar Amanda (42 tahun) sang bunda, seperti dikutip dari Dailymail,
Rabu (15/9/2010). Amanda menuturkan semua orang selalu kagum dengan
keduanya dan menganggapnya sebagai saudara bukan
pasangan kembar. Pasangan kembar berbeda warna kulit ini akan memasuki
sekolah pertamanya di Osborne Junior and Infant School di
Erdington, Birmingham. Kembar beda warna kulit tentu saja
tidak akan membuat guru kesulitan membedakannya. Amanda dan suaminya Michael (43 tahun) baru memiliki
anak kembar tersebut setelah 10 tahun menikah melalui
perawatan bayi tabung atau in vitro fertilisation (IVF). Dr Stephen Withers, dari klinis genetika interanasional
menambahkan kondisi ini biasanya terjadi pada pernikahan
ras campuran, yang mana satu telur memiliki dominan untuk
satu warna kulit. Namun hal ini diakui cukup langka terjadi
yaitu sekitar 1 dari 1 juta kehamilan, terutama jika bisa
menghasilkan bayi kembar secara bersamaan. Langkanya kondisi ini karena untuk memiliki dua sel telur
yang dibuahi dengan gen warna kulit berbeda masih kurang
umum terjadi, dan cenderung terjadi pada kembar fraternal.
Namun diperkirakan hal ini bisa saja menjadi kondisi yang
umum, seiring dengan semakin banyaknya pasangan ras
campuran. "Ibu berkulit hitam kemungkinan memiliki leluhur yang
berkulit putih atau sebaliknya ayah berkulit putih memiliki
leluhur yang berkulit hitam. Sehingga pada kondisi tertentu
gulungan DNA yang mati menyebabkan bayi dari orangtua
birasial ini hanya mewarisi pengkodean genetik untuk satu
warna," ujar Peter Propping, mantan direktur Institute for Human Genetics di Bonn University.
Wednesday, 15 September 2010
Friday, 27 August 2010
Wow! Wang Yihan Tersingkir Di Kejuaraan Dunia
— Kejutan terjadi di sektor tunggal
putri pada babak ketiga turnamen
bulu tangkis Kejuaraan Dunia
2010, Kamis (26/8/2010). Pemain
nomor satu dunia asal China dan juga favorit juara, Wang Yihan, di luar dugaan
harus tersingkir karena kalah 22-20, 16-21, 18-21,
dari pemain Jepang, Eriko Hirose. Dalam duel maraton berdurasi 75 menit itu,
Hirose tampil penuh semangat dan tidak kenal
menyerah. Alhasil, unggulan ke-10 tersebut, yang
pada babak kedua menyingkirkan tunggal putri
Indonesia, Maria Febe Kusumastuti, menang dan
berhak meraih tiket ke perempat final. "Ini kali pertama saya mengalahkannya dan ini
adalah kemenangan terbesar sepanjang karier
saya," ujar Hirose dengan ceria. Namun, perjalanan Hirose untuk merengkuh
gelar bergengsi ini masih sangat terjal.
Selanjutnya, dia harus bertemu lagi dengan
pemain China, Wang Lin, untuk memperebutkan
tiket semifinal. Unggulan ketujuh tersebut lolos ke
babak delapan besar setelah menang straight set 21-13, 21-17 atas unggulan 12 dari Hongkong,
Yip Pui Yin. Hasil gemilang diperoleh pemain nomor satu
Denmark, Tine Baun, yang merupakan unggulan
keempat. Pemain yang ketika menjuarai All
England bulan Maret lalu masih menggunakan
nama Tine Rasmussen ini menang 21-19, 23-21
atas pemain unggulan ke-15 dari Bulgaria, Petya Nedelcheva. Pemain unggulan lainnya yang lolos dengan
mudah ke perempat final adalah Saina Nehwal.
Unggulan kedua dari India ini menang 21-14,
21-18 atas pemain Rusia, Ella Diehl.
Sayang sekali padahal aku ini fansnya.....
putri pada babak ketiga turnamen
bulu tangkis Kejuaraan Dunia
2010, Kamis (26/8/2010). Pemain
nomor satu dunia asal China dan juga favorit juara, Wang Yihan, di luar dugaan
harus tersingkir karena kalah 22-20, 16-21, 18-21,
dari pemain Jepang, Eriko Hirose. Dalam duel maraton berdurasi 75 menit itu,
Hirose tampil penuh semangat dan tidak kenal
menyerah. Alhasil, unggulan ke-10 tersebut, yang
pada babak kedua menyingkirkan tunggal putri
Indonesia, Maria Febe Kusumastuti, menang dan
berhak meraih tiket ke perempat final. "Ini kali pertama saya mengalahkannya dan ini
adalah kemenangan terbesar sepanjang karier
saya," ujar Hirose dengan ceria. Namun, perjalanan Hirose untuk merengkuh
gelar bergengsi ini masih sangat terjal.
Selanjutnya, dia harus bertemu lagi dengan
pemain China, Wang Lin, untuk memperebutkan
tiket semifinal. Unggulan ketujuh tersebut lolos ke
babak delapan besar setelah menang straight set 21-13, 21-17 atas unggulan 12 dari Hongkong,
Yip Pui Yin. Hasil gemilang diperoleh pemain nomor satu
Denmark, Tine Baun, yang merupakan unggulan
keempat. Pemain yang ketika menjuarai All
England bulan Maret lalu masih menggunakan
nama Tine Rasmussen ini menang 21-19, 23-21
atas pemain unggulan ke-15 dari Bulgaria, Petya Nedelcheva. Pemain unggulan lainnya yang lolos dengan
mudah ke perempat final adalah Saina Nehwal.
Unggulan kedua dari India ini menang 21-14,
21-18 atas pemain Rusia, Ella Diehl.
Sayang sekali padahal aku ini fansnya.....
Wednesday, 25 August 2010
Tes DNA Pastikan Hitler Keturunan Yahudi
Motif pembantaian
bangsa Yahudi
oleh Adolf Hitler
semakin
misterius. Belum
tentu sang Fuhrer
melakukannya
karena menganggap Yahudi sebagai bangsa yang
rendah, sebab penelusuran DNA memastikan
bahwa ia sendiri merupakan keturunan Yahudi. Penelusuran itu dilakukan oleh Marc Vermeeren,
seorang ahli sejarah bekerja sama dengan jurnalis
Belgia, Jean-Paul Mulders. Keduanya mengambil
sampel air ludah dari 39 kerabat Hitler, termasuk
seorang petani Austria yang merupakan sepupu
sang pemimpin Nazi. Dalam pengujian ketat di laboratorium, Mulders
dan Vermeeren berhasil memastikan dugaan yang
berkembang selama ini bahwa Hitler memang
merupakan keturunan Yahudi. Kepastian itu
ditandai dengan penemuan kromosom
Haplogroup E1b1b1 dalam DNA para kerabat Hitler. Ras yang menghuni wilayah Eropa bagian barat
sangat jarang memiliki kromosom tersebut.
Kromosom tersebut justru lebih banyak dimiliki
oleh bangsa Berber yang menghuni wilayah Afrika
seperti Maroko, Aljazair dan Tunisia dan masih
punya hubungan secara genetik dengan bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi Ashkenazi memiliki kromosom
Haplogroup E1b1b1 sebanyak 18-20 persen,
sedangkan Yahudi Sephardic memiliki sekitar
8,6-30 persen di dalam DNA-nya. Karena itu,
kromosom yang terdapat di dalam kromosom Y
itu menandakan kekerabatan seseorang dengan bangsa Yahudi. "Satu hal yang bisa ditarik dari dalil ini adalah,
Hitler masih berkerabat dengan orang-orang yang
ia benci," tulis Mulders di majalah Belgia, Knack
seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (24/8/2010). Hal ini dapat mematahkan pemahaman tentang
konsep Nazi yang menempatkan urusan darah
dan keturunan sebagai hal sangat penting.
Bagaimanapun ini membuktikan bahwa darah
Hitler tidak 100 persen bangsa Arya, bangsa yang
diagung-agungkan Nazi sebagai ras manusia paling unggul di dunia. Dugaan bahwa Hitler merupakan keturunan
Yahudi bukan kali ini saja muncul ke permukaan.
Ayahnya, Alois Hitler diketahui mempunyai anak
dari hubungannya dengan Maria Schickelgruber
yang kemudian dikenal sebagai seorang tokoh
Yahudi bernama Leopold Frankenberger.
bangsa Yahudi
oleh Adolf Hitler
semakin
misterius. Belum
tentu sang Fuhrer
melakukannya
karena menganggap Yahudi sebagai bangsa yang
rendah, sebab penelusuran DNA memastikan
bahwa ia sendiri merupakan keturunan Yahudi. Penelusuran itu dilakukan oleh Marc Vermeeren,
seorang ahli sejarah bekerja sama dengan jurnalis
Belgia, Jean-Paul Mulders. Keduanya mengambil
sampel air ludah dari 39 kerabat Hitler, termasuk
seorang petani Austria yang merupakan sepupu
sang pemimpin Nazi. Dalam pengujian ketat di laboratorium, Mulders
dan Vermeeren berhasil memastikan dugaan yang
berkembang selama ini bahwa Hitler memang
merupakan keturunan Yahudi. Kepastian itu
ditandai dengan penemuan kromosom
Haplogroup E1b1b1 dalam DNA para kerabat Hitler. Ras yang menghuni wilayah Eropa bagian barat
sangat jarang memiliki kromosom tersebut.
Kromosom tersebut justru lebih banyak dimiliki
oleh bangsa Berber yang menghuni wilayah Afrika
seperti Maroko, Aljazair dan Tunisia dan masih
punya hubungan secara genetik dengan bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi Ashkenazi memiliki kromosom
Haplogroup E1b1b1 sebanyak 18-20 persen,
sedangkan Yahudi Sephardic memiliki sekitar
8,6-30 persen di dalam DNA-nya. Karena itu,
kromosom yang terdapat di dalam kromosom Y
itu menandakan kekerabatan seseorang dengan bangsa Yahudi. "Satu hal yang bisa ditarik dari dalil ini adalah,
Hitler masih berkerabat dengan orang-orang yang
ia benci," tulis Mulders di majalah Belgia, Knack
seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (24/8/2010). Hal ini dapat mematahkan pemahaman tentang
konsep Nazi yang menempatkan urusan darah
dan keturunan sebagai hal sangat penting.
Bagaimanapun ini membuktikan bahwa darah
Hitler tidak 100 persen bangsa Arya, bangsa yang
diagung-agungkan Nazi sebagai ras manusia paling unggul di dunia. Dugaan bahwa Hitler merupakan keturunan
Yahudi bukan kali ini saja muncul ke permukaan.
Ayahnya, Alois Hitler diketahui mempunyai anak
dari hubungannya dengan Maria Schickelgruber
yang kemudian dikenal sebagai seorang tokoh
Yahudi bernama Leopold Frankenberger.
Tuesday, 24 August 2010
Terperangkap Di Tubuh Yang Salah
Buckinghamshire, Menjadi seorang transeksual tidaklah mudah dan harus rela mendapat banyak
cemooh dari masyarakat. Tapi tak bisa dipungkiri,
orang-orang tersebut juga merasa terperangkap
di tubuh yang salah sebelum memutuskan untuk
operasi ganti kelamin. Salah satunya adalah Delia Johnstone, seorang
transeksual asal Milton Keynes, Buckinghamshire.
Sosoknya yang tinggi ramping, mengenakan rok
blus nan cantik, ditambah dengan gaya rambut
dan make up yang elegan, tak sepenuhnya
membuat Delia diterima sebagai seorang wanita. Delia yang kini berusia 55 tahun, terlahir dengan
nama David. Tapi sejak masih anak-anak, ia selalu
merasa terperangkap di tubuh yang salah, sebagai
seorang laki-laki. "Dari usia yang sangat muda, sekitar delapan
tahun, saya tahu bahwa saya sangat berbeda dari
anak-anak lainnya. Setiap kali saya bercermin,
saya selalu benci dengan apa yang saya lihat di
cermin. Tapi saya tidak tahu mengapa saya
merasa seperti itu," tutur Delia, seperti dilansir dari Independent, Senin (23/8/2010). Menurut Delia, neneknya adalah satu-satunya
orang yang menyadari ada sesuatu yang salah
pada dirinya. "Kamu bukanlah dirimu yang
sebenarnya, itu yang selalu ia katakan, tapi saya
tak tahu mengapa," jelas Delia. Delia mengaku, tidak mengerti mengapa ia sangat
suka menyelinap ke kamar kakak perempuannya
dan mencoba baju-baju di lemari kakaknya
tersebut. Delia kecil alias David, juga harus berjuang
dengan disleksia (ketidakmampuan untuk
membaca dan mengeja) yang tidak terdiagnosis.
Ia frustasi karena dicap bodoh oleh guru-gurunya
yang tidak mengerti dengan kondisi yang
dideritanya. Berbeda dengan teman-temannya, ditambah lagi
dengan perasaan 'serba salah' membuat David
memberontak dan berkelakuan buruk. Dia
dikeluarkan dari sekolah dan dikirim ke sekolah
asrama putra khusus bagi anak nakal. Baru sejam setelah diantar oleh orangtuanya ke
sekolah asrama tersebut, David sudah diserang
dengan pisau berbentuk balpoin oleh siswa
penghuni asrama. "Kekerasan memang menjadi ciri khas kehidupan
sehari-hari di sekolah itu, tapi hal itu mengajarkan
saya untuk mampu melindungi diri sendiri,"
kenang Delia. Dengan kondisi yang ada di sekolah tersebut, ia
berharap dapat terbangun dari tidur dengan
perasaan normal sebagai laki-laki, tapi ternyata hal
tersebut tidak terjadi. Suatu hari, ketika David ditinggal sendiri di rumah
selama seminggu oleh orangtua dan saudara-
saudaranya, ia menghabiskan waktunya
berpakaian sebagai wanita. "Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa
santai dan merasa bahwa itu adalah benar-benar
saya. Saat itulah saya menyadari semuanya,"
ungkap Delia. Dengan usianya yang terus bertambah, David
semakin merasa frustasi. Dan ketika berusia 20-an
tahun, ia menemukan bahwa ia bukanlah satu-
satunya orang yang merasa 'terperangkap' seperti
ini. Tapi ia juga menemukan bahwa orang-orang
sepertinya akan selalu dicap aneh, menyimpang
dan juga dihantui rasa malu yang luar biasa. Ia
kemudian memutuskan untuk menerima bahwa ia
berada di tubuh yang salah. David menikah dan memiliki dua anak, tapi
hidupnya sebagian besar terbuang dalam kepura-
puraan. "Saya pikir dulu saya jatuh cinta, saya ingin jatuh
cinta. Tapi sekarang saya sadar, perasaan itu
hanyalah karena saya ingin memiliki teman,"
jelasnya. David menikah di St Lucia, di pantai yang indah
dan sangat romantis. Ketika ia menatap mata
calon istrinya dan mengatakan sumpah, ia tahu
bahwa ia sedang berbohong. Tapi ia tak punya
pilihan. "Saya sangat berjuang dalam kehidupan seks
kami. Saya dulu mencoba apapun untuk
menghindari berhubungan seks, tapi tetap saja
kami memiliki dua anak, putra dan putri," tutur
Delia. David akhirnya bercerai dengan istrinya dua tahun
yang lalu dan anak-anak memutuskan untuk
tinggal bersamanya. Beruntungnya, David sangat
menyayangi anak-anaknya. "Pada September tahun lalu, setelah anak-anak
mulai memasuki bangku kuliah, hal-hal aneh
mulai masuk ke kepala saya. Saya sampai di titik di
mana saya sudah tidak bisa lagi tinggal di tubuh
yang salah itu. Tapi saya juga tahu bahwa orang
yang memilih untuk menjadi transeksual akan kehilangan semuanya, pekerja, keluarga dan
semua kehidupan saya," ujar Delia. David saat itu sadar bahwa bila ia egois mengikuti
kemauannya, pasti akan menakutkan bagi anak-
anaknya. Tapi ia sudah tidak sanggup untuk
bertahan lebih lama lagi sebagai seorang laki-laki. David sempat merencanakan bunuh diri dengan
cara yang sangat cermat. Tapi di menit-menit
terakhir, ketika ia sudah mulai mengencangkan
ikatan tali di lehernya, ia sadar bahwa ada cara lain
yang mungkin bisa berhasil untuk dapat membuat
anak-anak menerima kondisinya. Kejadian itu akhirnya memicu David untuk
membeli obat hormon wanita di internet. Dan tiga
bulan kemudian, tepatnya bulan Desember 2009,
ia memiliki keberanian untuk mengunjungi dokter. Dengan obat hormon tersebut, kulitnya menjadi
halus dan mulus, ia pun tampak 10 tahun lebih
muda dari usia sebenarnya. "Obat itu bertindak lebih cepat daripada yang saya
pikirkan. Dan setelah tiga bulan, anak-anak libur
dan kembali ke rumah. Saat itu, payudara saya
sudah mulai tumbuh meski tidak begitu besar.
Dan saat itu saya rasa sudah saatnya memberi
tahu anak-anak," kenangnya. Delia tahu bahwa ketika David memberi tahu
anak-anak tentang sesuatu yang penting, anak-
anak akan mengira bahwa ia gay. Putrinya
menolak untuk bertemu dengannya, namun
putranya menerima berita itu dengan sikap tabah
yang wajar dan pergi untuk memberitahu adiknya. Delia menuturkan, sikap kedua anaknya sekarang
menunjukkan bahwa mereka masih berjuang,
namun anak-anaknya tersebut tetap mendukung
dan menyayanginya. Dan sejak 1 Januari 2010, David memutuskan
untuk melakukan operasi ganti kelamin dan
mengganti namanya dari David Francis Johnstone
menjadi Delia Frances Johnstone. Delia kini hidup dan berpakaian sebagai seorang
wanita. Ia juga terus mengonsumsi obat hormon
wanita dan melakukan suntik setiap tiga bulan
sekali untuk menekan hormon laki-lakinya.
cemooh dari masyarakat. Tapi tak bisa dipungkiri,
orang-orang tersebut juga merasa terperangkap
di tubuh yang salah sebelum memutuskan untuk
operasi ganti kelamin. Salah satunya adalah Delia Johnstone, seorang
transeksual asal Milton Keynes, Buckinghamshire.
Sosoknya yang tinggi ramping, mengenakan rok
blus nan cantik, ditambah dengan gaya rambut
dan make up yang elegan, tak sepenuhnya
membuat Delia diterima sebagai seorang wanita. Delia yang kini berusia 55 tahun, terlahir dengan
nama David. Tapi sejak masih anak-anak, ia selalu
merasa terperangkap di tubuh yang salah, sebagai
seorang laki-laki. "Dari usia yang sangat muda, sekitar delapan
tahun, saya tahu bahwa saya sangat berbeda dari
anak-anak lainnya. Setiap kali saya bercermin,
saya selalu benci dengan apa yang saya lihat di
cermin. Tapi saya tidak tahu mengapa saya
merasa seperti itu," tutur Delia, seperti dilansir dari Independent, Senin (23/8/2010). Menurut Delia, neneknya adalah satu-satunya
orang yang menyadari ada sesuatu yang salah
pada dirinya. "Kamu bukanlah dirimu yang
sebenarnya, itu yang selalu ia katakan, tapi saya
tak tahu mengapa," jelas Delia. Delia mengaku, tidak mengerti mengapa ia sangat
suka menyelinap ke kamar kakak perempuannya
dan mencoba baju-baju di lemari kakaknya
tersebut. Delia kecil alias David, juga harus berjuang
dengan disleksia (ketidakmampuan untuk
membaca dan mengeja) yang tidak terdiagnosis.
Ia frustasi karena dicap bodoh oleh guru-gurunya
yang tidak mengerti dengan kondisi yang
dideritanya. Berbeda dengan teman-temannya, ditambah lagi
dengan perasaan 'serba salah' membuat David
memberontak dan berkelakuan buruk. Dia
dikeluarkan dari sekolah dan dikirim ke sekolah
asrama putra khusus bagi anak nakal. Baru sejam setelah diantar oleh orangtuanya ke
sekolah asrama tersebut, David sudah diserang
dengan pisau berbentuk balpoin oleh siswa
penghuni asrama. "Kekerasan memang menjadi ciri khas kehidupan
sehari-hari di sekolah itu, tapi hal itu mengajarkan
saya untuk mampu melindungi diri sendiri,"
kenang Delia. Dengan kondisi yang ada di sekolah tersebut, ia
berharap dapat terbangun dari tidur dengan
perasaan normal sebagai laki-laki, tapi ternyata hal
tersebut tidak terjadi. Suatu hari, ketika David ditinggal sendiri di rumah
selama seminggu oleh orangtua dan saudara-
saudaranya, ia menghabiskan waktunya
berpakaian sebagai wanita. "Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa
santai dan merasa bahwa itu adalah benar-benar
saya. Saat itulah saya menyadari semuanya,"
ungkap Delia. Dengan usianya yang terus bertambah, David
semakin merasa frustasi. Dan ketika berusia 20-an
tahun, ia menemukan bahwa ia bukanlah satu-
satunya orang yang merasa 'terperangkap' seperti
ini. Tapi ia juga menemukan bahwa orang-orang
sepertinya akan selalu dicap aneh, menyimpang
dan juga dihantui rasa malu yang luar biasa. Ia
kemudian memutuskan untuk menerima bahwa ia
berada di tubuh yang salah. David menikah dan memiliki dua anak, tapi
hidupnya sebagian besar terbuang dalam kepura-
puraan. "Saya pikir dulu saya jatuh cinta, saya ingin jatuh
cinta. Tapi sekarang saya sadar, perasaan itu
hanyalah karena saya ingin memiliki teman,"
jelasnya. David menikah di St Lucia, di pantai yang indah
dan sangat romantis. Ketika ia menatap mata
calon istrinya dan mengatakan sumpah, ia tahu
bahwa ia sedang berbohong. Tapi ia tak punya
pilihan. "Saya sangat berjuang dalam kehidupan seks
kami. Saya dulu mencoba apapun untuk
menghindari berhubungan seks, tapi tetap saja
kami memiliki dua anak, putra dan putri," tutur
Delia. David akhirnya bercerai dengan istrinya dua tahun
yang lalu dan anak-anak memutuskan untuk
tinggal bersamanya. Beruntungnya, David sangat
menyayangi anak-anaknya. "Pada September tahun lalu, setelah anak-anak
mulai memasuki bangku kuliah, hal-hal aneh
mulai masuk ke kepala saya. Saya sampai di titik di
mana saya sudah tidak bisa lagi tinggal di tubuh
yang salah itu. Tapi saya juga tahu bahwa orang
yang memilih untuk menjadi transeksual akan kehilangan semuanya, pekerja, keluarga dan
semua kehidupan saya," ujar Delia. David saat itu sadar bahwa bila ia egois mengikuti
kemauannya, pasti akan menakutkan bagi anak-
anaknya. Tapi ia sudah tidak sanggup untuk
bertahan lebih lama lagi sebagai seorang laki-laki. David sempat merencanakan bunuh diri dengan
cara yang sangat cermat. Tapi di menit-menit
terakhir, ketika ia sudah mulai mengencangkan
ikatan tali di lehernya, ia sadar bahwa ada cara lain
yang mungkin bisa berhasil untuk dapat membuat
anak-anak menerima kondisinya. Kejadian itu akhirnya memicu David untuk
membeli obat hormon wanita di internet. Dan tiga
bulan kemudian, tepatnya bulan Desember 2009,
ia memiliki keberanian untuk mengunjungi dokter. Dengan obat hormon tersebut, kulitnya menjadi
halus dan mulus, ia pun tampak 10 tahun lebih
muda dari usia sebenarnya. "Obat itu bertindak lebih cepat daripada yang saya
pikirkan. Dan setelah tiga bulan, anak-anak libur
dan kembali ke rumah. Saat itu, payudara saya
sudah mulai tumbuh meski tidak begitu besar.
Dan saat itu saya rasa sudah saatnya memberi
tahu anak-anak," kenangnya. Delia tahu bahwa ketika David memberi tahu
anak-anak tentang sesuatu yang penting, anak-
anak akan mengira bahwa ia gay. Putrinya
menolak untuk bertemu dengannya, namun
putranya menerima berita itu dengan sikap tabah
yang wajar dan pergi untuk memberitahu adiknya. Delia menuturkan, sikap kedua anaknya sekarang
menunjukkan bahwa mereka masih berjuang,
namun anak-anaknya tersebut tetap mendukung
dan menyayanginya. Dan sejak 1 Januari 2010, David memutuskan
untuk melakukan operasi ganti kelamin dan
mengganti namanya dari David Francis Johnstone
menjadi Delia Frances Johnstone. Delia kini hidup dan berpakaian sebagai seorang
wanita. Ia juga terus mengonsumsi obat hormon
wanita dan melakukan suntik setiap tiga bulan
sekali untuk menekan hormon laki-lakinya.
Subscribe to:
Posts (Atom)

